Apakah Boleh Memaksa Anak Belajar?

By | April 9, 2022

Salah satu hal yang menyenangkan di bulan Ramadhan tahun ini adalah saya berkesempatan untuk bisa sharing pengetahuan dengan para orang tua murid TK Mutiara Pelangi di Cluster Mutiara Tiga Raksa, Jambe Kabupaten Tangerang. Cukup jauh jaraknya dari rumah saya. Tapi sebenarnya ini hutang saya yang dari dulu sudah diminta kakak-kakak tingkat saya untuk bisa berkontribusi di sekolah anak usia dini tersebut.

TK Mutiara Pelangi adalah sekolah formal yang berada di bawah naungan Yayasan Kalpati, yayasan yang diinisiasi alumni Patigat & Poltek Gajah Tunggal Tangerang. Sebagai sekolah formal, tentu TK ini mendapatkan izin resmi dari Dinas Pendidikan setempat. Dan Alhamdulillah perkembangannya cukup baik. Dari awalnya belum punya gedung sendiri, sekarang bangunannya sudah cukup besar. Cukup untuk menampung lebih dari 50 peserta didiknya.

Tema sharing session kemarin adalah tentang bagaimana mendidik anak usia dini di era digital. Tapi pertanyaan-pertanyaan dari para ibu yang hadir seputar pengasuhan anak secara umum.

Misalnya pertanyaan dari Ibu Nur yang menurut saya masya Allah sangat semangat belajar. Sepanjang diskusi, beliau aktif mencatat setiap poin-poin penting yang disampaikan. Di rumah, Bu Nur sudah berusaha untuk tidak memaksa anak belajar, meskipun kemudian beliau mengakui di usia anaknya yang sekarang 7 tahun, kemampuan membacanya belum lancar. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah tidak memaksa anak belajar tersebut benar? Lalu karena tidak dipaksa belajar apakah memang anak akan menjadi kurang berkembang dan tidak suka belajar?

Baca Juga : 10 Kegiatan Bermain yang Membangun Motorik Halus Anak

Benarkah Memaksa Anak Belajar adalah Ide yang Baik ?

Sebagai orang tua, tentu kita sangat senang sekali dan bangga jika anak-anak kita menonjol prestasinya di kelas. Bahkan banyak orang tua yang berharap jika anaknya berprestasi di sekolah maka akan mudah menggapai karir di usia dewasanya nanti.

Pikiran seperti itu tentu tidak salah. Namun jika diiringi dengan pemaksaan terhadap anak untuk mau belajar sehingga bisa memperoleh nilai terbaik di kelas, sangat kontraproduktif dengan tujuan belajar itu sendiri.

Memaksa anak akan membuat mereka merasa tidak nyaman. Padahal menurut para ahli neurosains dan ahli pendidikan, untuk bisa belajar anak harus dalam kondisi nyaman. Karena ketika kondisi nyaman, gerbang-gerbang neurotransmiter (zat pembawa pesan di otak) akan terbuka yang membuat anak berada dalam kondisi siap belajar.

Terbukanya gerbang neurotransmitter untuk mengaktifkan kerja otak

Dalam kondisi bahagia dan senang neurotransmitter bekerja dengan baik sehingga informasi yang ditangkap otak tentang apa yang dipelajari anak akan mudah di bawa ke memory anak. Dr David Rock dari Neuroleadership Institute menemukan bahwa saat kondisi bahagia maka otak juga mengeluarkan dopamin yang sangat penting dalam membangkitkan minat anak terhadap belajar. Sehingga anak-anak akan terlibat dalam proses belajar, bersedia melakukan hal-hal sulit, menjawab tantangan, memiliki kemauan yang kuat, dan terbuka terhadap ide-ide baru maupun bimbingan orang lain (guru dan orang tua).

Baca Juga : 5 Hal Ini Menjadi Dasar Kemampuan Matematika yang Penting di Usia Dini

Apa Saja Dampak Memaksa Anak Belajar ?

Berbeda dengan kondisi bahagia yang melahirkan belajar, ketika anak dipaksa akan mengaktifkan batang otak. Saat bagian ini aktif maka yang akan merespon fight or flight. Respon “melawan” atau “lari” ini akan menjadi modus operandi anak yang melahirkan perilaku-perilaku yang tidak baik menurut orang dewasa. Misalnya anak mencari perhatian dengan melakukan hal-hal lain di luar belajar.

Memaksa Anak Belajar tidak Memabuat Mereka Bahagia

Memaksa anak belajar sesuai keinginan guru atau orang tua juga memberikan beberapa konsekuensi, diantaranya :

  • Anak-anak akan kehilangan motivasi ke sekolah. Karena guru memaksa belajar, belum lagi tanggung jawab pekerjaan rumah dari guru yang ketika sampai dirumah dipaksa lagi oleh orang tua harus diselesaikan, membuat anak tidak bersemangat ke sekolah.
  • Mereka tidak tertarik mengerjakan tugas-tugas. Baik tugas dari sekolah maupun tugas-tugas di rumah.
  • Anak-anak menjadi mudah tersinggung karena mereka merasa bahwa sikap mereka tidak diterima oleh orang tua dan guru.
  • Hubungan dengan teman-temannya menjadi terganggu. Misalnya temannya mengajak anak bermain sedangkan dia harus belajar karena menuruti keinginan orang tua.
  • Membuat anak menunjukan sikap hiperaktif.

Dengan banyaknya dampak negatif dari memaksa anak belajar maka orang tua perlu berpikir ulang bagaimana membangun agar anak-anak mau belajar karena keinginannya sendiri. Sehingga ada dan tidak ada guru maupun orang tua, anak-anak tetap belajar karena dia mencintai “pekerjaan” belajar ini.

Kalau ayah bunda bagaimana? Apakah pernah memaksa anak belajar? Yuk sharing di kolom komentar 😚

Leave a Reply

Your email address will not be published.