Ketika Beda Awal Puasa

By | April 3, 2022

Sudah beberapa tahun terakhir (tepatnya 5 tahun terakhir sejak 2016) terutama saat pandemi Covid-19 terjadi, kita melaksanakan puasa dan merayakan lebaran secara bersama-sama. Sebelumnya memang pernah terjadi perbedaan awal puasa maupun Idul Fitri antara pemerintah dan beberapa ormas, termasuk ormas besar seperti Muhammadiyah. Tahun ini perbedaan tersebut kembali terjadi.

Jauh-jauh hari, Pimpinan Pusat Muhammadiyah sudah mengumumkan bahwa tanggal 1 Ramadhan 1443 H atau tahun 2022 M ini akan bertepatan dengan 2 April 2022. Begitu pula dengan 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah 1443 H diumumkan di surat yang sama.

Berbeda dengan Muhammadiyah, pemerintah melalui Kementerian Agama RI melakukan sidang itsbat di tanggal 1 April 2022 dan memutuskan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada hari Ahad tanggal 3 April 2022. Berbeda satu hari dengan PP Muhammadiyah. Artinya, secara umum masyarakat Indonesia kebanyakan akan puasa 1 hari setelah teman-teman warga Muhammadiyah berpuasa.

Mengapa Kriteria Hilal Berbeda?

Periode Bulan

Perbedaan ini terjadi karena memang adanya kriteria hilal yang berbeda dari setiap ormas. Mengutip Wikipedia, Hilal adalah bulan sabit muda pertama yang menandakan permulaan bulan sudah terjadi. Nah perbedaan kriteria inilah yang akhirnya membuat ada yang sudah lebih dulu berpuasa dan ada yang berpuasa sehari setelahnya.

Muhammadiyah misalnya. Dalam kalendernya ormas Islam ini menentukan kriteria hilal sebagai wujudul hilal. Wujudul hilal adalah waktu dimana bulan terbenam sesudah matahari dan ijtimak (posisi bulan dan matahari pada garis yang sama bila diamati dari bumi) terjadi sebelum maghrib. Dengan kriteria ini, ketika ijtimak sudah terjadi sebelum maghrib, maka hari tesebut sudah berganti menjadi bulan baru.

Menteri-menteri Agama di Asia Tenggara khususnya seperti kementerian agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura menggunakan standar berbeda. Mereka menyepakati bahwa untuk bisa diamati, tinggi bulan harus minimal 2 derajat. Di bawah itu, hilal tidak akan bisa diamati.

Akhirnya ketika rukyatul hilal dilakukan pada tanggal 29 Sya’ban dan secara perhitungan posisi bulan masih di bawah 2 derajat, makan hilal tidak kelihatan dan bulan Sya’ban pun digenapkan menjadi 30 hari sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw :

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih).

Menyingkapi Perbedaan Awal Puasa

Sebenarnya mau mulai berpuasa Ramadhan kapan, itu kembali kepada diri kita sendiri. Cara menentukan 1 Ramadhan mana yang kita yakini. Misalnya kita meyakini bahwa setiap terjadi ijtimak sebelum maghrib artinya sudah berganti bulan, maka kita mulai berpuasa seperti teman-teman di Muhammadiyah. Sebaliknya jika kita meyakini selain perhitungan juga diperlukan rukyatul hilal (pengamatan hilal secara langsung baik dengan atau tanpa bantuan alat), maka kita bisa mengikuti keputusan organisasi yang melakukan hal ini misalnya Kemenag dan MUI. Selama kita mulai berpuasa di tanggal 1 Ramadhan, insya Allah sah puasanya.

Begitu juga dengan 1 Syawal. Ketika kita meyakini satu cara dalam menentukan awal puasa, maka cara tersebut juga kita pakai untuk menentukan awal bulan Syawal. Jangan sampai mulai puasanya mengikuti yang akhir, lebarannya ikut yang awal. Itu curang namanya :)) *hahahah

Jadi kita boleh memilih yang mana yang kita yakini. Yang tidak boleh adalah berpuasa karena ikut-ikutan. Mentang-mentang si A puasanya lebih dulu kita ikutan. Berpuasalah karean kita yakin. Untuk bisa yakin (termasuk meyakini cara menentukan awal bulan baik melalui wujudul hilal maupun hisab dan rukaytul hilal), kita memang perlu belajar. Maka jangan pernah berhenti belajar. Tidak terbatas mengkaji ilmu Agama tapi juga Sains karena pada dasarnya Sains akan membantu kita memahami agama.

Hal lain yang tidak boleh dilakukan adalah menghakimi orang lain yang berbeda dengan kita. Termasuk memaksa orang lain untuk sama dengan kita. Karena setiap orang akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang dilakukan dirinya sendiri seperti dalam firman Allah QS Al-Mudattsir ayat 38 :

“Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.”

Jadi teman-teman, mari menyingkapi perbedaan ini dengan perasaan bahagia. Karena perbedaan adalah rahmat. Dengan saling menghormati perspektif satu sama lain akan membuat kita menjadi bahagia dan rukun.

Selamat berpuasa… Semoga kita diberikan kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa ini sampai tuntas. Semoga puasa mampu meluruhkan dosa-dosa kita dan mengantar kita menjadi muslim yang bertaqwa.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published.