PKn, Penting tak Penting

By | November 28, 2012

Tadi malam sampai di rumah sudah larut. Padahal keesokan harinya harus berangkat lebih pagi karena ada School Fieldtrip ke Bogor. Gara-garanya anak privat saya PRnya banyak sekali.

Saya heran, padahal dia bersekolah di Sekolah Standar Nasional yang notabene sudah terakreditasi A. PRnya ada 2 mata pelajaran. Matematika penyajian data sebanyak 4 halaman (Ini soalnya saja lho). Pikir sendiri berapa banyak kertas HVS yang dibutuhkan untuk menjawabnya (Membuat tabel hingga grafik). Satunya lagi PR PKn, mata pelajaran yang saat ini saya pikir kurang bermanfaat bagi anak SD. Padahal sudah menggunakan LKS, gurunya malah meminta anak mengerjakan 6 halaman soal. Yang bikin saya geleng-geleng, soal isian dan essay-nya harus ditulis kembali. Guru macam apa yang ‘menyiksa’ muridnya seperti itu. 🙁

Kembali ke mata pelajaran PKn, kenapa saya bilang kurang bermanfaat? Saat ini materi pelajaran ini sangat berbeda dengan sewaktu jaman saya bersekolah di SD. Saya memang sempat bertemu dengan pelajaran PPKn di kelas 4-6. Tapi materi pelajarannya tidak jauh berbeda dengan pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang saya dapat di kelas 1-3. Yang diajarkan kepada murid – murid adalah bagaimana berperilaku baik sesuai dengan nilai – nilai Pancasila, mulai dari ketuhanan, tenggang rasa, cinta tanah air, musyawarah, hingga kepedulian sosial. Saya masih ingat kebanyakan soal – soal latihan yang ada adalah pertanyaan tentang perbuatan – perbuatan baik dan buruk baik untuk diri sendiri, maupun dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Ini jauh lebih bermanfaat karena mengantarkan saya bisa membedakan mana perilaku buruk dan mana perilaku yang baik.

Pendidikan Moral Pancasila (PMP)

Pendidikan Moral Pancasila (PMP)

Berbeda sekali dengan materi pelajaran PKn saat ini. Sejak dini anak – anak sudah dijejali dengan materi – materi berat yang menurut saya belum layak mereka pelajari. Bayangkan anak kelas 6 harus belajar Undang – Undang Otonomi Daerah, materi yang di Amerika sana didalami oleh mahasiswa S2. Kelas 3 juga harus belajar mengingat perjuangan para Pemuda dalam memperjuangkan persatuan dan kesatuan bangsa dan menghapal kapan dilaksanakan serta apa hasil dari Sumpah Pemuda. Materinya menjadi bias antara mana pelajaran yang berjudul kewarganegaraan, mana belajar sejarah. Ditambah lagi metode guru mengajar mata pelajaran ini di kebanyakan sekolah masih menggunakan metode ceramah yang membosankan. Wajar jika PKn menjadi salah satu mata pelajaran yang tidak disukai siswa di sekolah.

Kalau saya boleh menyarankan, lebih baik materi ajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di jenjang sekolah dasar adalah pendidikan karakter sesuai dengan nilai – nilai luhur Pancasila atau agama. Di sekolah kami sendiri, kami belajar menerapkan 18 Sikap yang dikorelasikan dengan nilai – nilai Al-Qur’an (Karena kami sekolah Islam, kalau sekolah agama lain bisa menyesuaikan dengan kitab sucinya masing – masing). Tidak ada pelajaran PKn dan IPS di kelas bawah (kelas 1 dan 2). Yang ada hanyalah Sentra Drama tempat anak belajar sosial dan bersikap baik. 18 Sikap juga tidak hanya ditekankan di sentra tersebut namun sepanjang dan setiap hari (Tentang 18 Sikap bisa dibaca disini). Agar anak – anak dapat membedakan mana sikap yang baik yang harus mereka miliki dan mana sikap buruk yang tak perlu mereka dekati.

 

Sumber gambar : kompasiana.com

Clip to Evernote

4 thoughts on “PKn, Penting tak Penting

  1. bangsaid

    Hahah, dan tak ada korelasinya sama sekali antara hapal pasal UUD dengan perilaku warga yang baik ya. Capek liat warga rusuh mulu 🙁

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge