Wahai Para Guru, Membaca lalu Menulislah…

By | November 29, 2012

Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya merupakan indikator keberaksaraan sebuah negara atau wilayah. Dan keberakasaraan erat kaitannya dengan kemajuan sebuah negara. Hampir dipastikan sebuah negara yang maju memiliki masyarakat yang gemar membaca. Wajar kemudian membaca dan menulis menjadi sebegitu pentingnya, sehingga sudah dikenalkan sejak dini melalui program pembelajaran di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) atau Play Group.

Faktanya meskipun sudah diprogramkan sejak usia dini, keduanya (membaca dan menulis) belum menjadi sebuah kebiasaan di lingkungan pendidikan maupun masyarakat secara umum. Hal ini terbukti dengan rendahnya jumlah terbitan buku di Indonesia. Menurut data dari Kompas.com, setiap tahunnya jumlah buku yang terbit di Indonesia tidak sampai 18.000 judul buku per tahun. Ini jauh sekali dibandingkan dengan Jepang yang menerbitkan buku hingga 40.000 judul buku dan China 140.000 judul buku per tahun. Artinya, produktivitas menulis orang Indonesia sangat rendah.

Apakah Guru Perlu Menulis ?

Saya bilang, Guru bukan perlu menulis tapi harus menulis. Mengapa? Yang pertama, banyak kegiatan guru yang berhubungan dengan menulis. Sebut saja, membuat Lesson Plan (Rencana Program Pengajaran), merancang materi ajar, membuat program evaluasi dan pengayaan, hingga membuat Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Kedua, profesi guru adalah profesi yang setiap hari selalu mendapatkan bahan – bahan untuk bisa diramu menjadi tulisan yang menarik. Jika peka terhadap peristiwa dalam proses belajar mengajarnya, pasti guru menemukan hal yang menarik.

Tentu saja untuk mendukung hal – hal tersebut guru harus rajin membaca. Selain membaca lingkungan (baca: peka terhadap lingkungan), guru juga harus rajin membaca bahan bacaan seperti buku atau artikel di internet. Karena dengan membaca guru bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai model kalimat. Lebih lanjut lagi, guru dapat meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan memahami apa yang tertulis baris demi baris. Ini tentu sangat berguna bagi guru tersebut. Sedangkan sebaliknya jika guru rabun membaca (tidak suka/senang membaca) tentu guru akan lumpuh menulis (sulit menulis) dan ini bisa berdampak pada miskinnya ilmu atau wawasannya. Padahal dari guru yang ‘Kaya’ pastinya murid akan belajar banyak hal.

Siswa SDIP Al-Amanah Membuat/ Menulis Buku tentang KPK dan FPB

Siswa SDIP Al-Amanah Membuat/ Menulis Buku tentang KPK dan FPB

Selain itu, Guru merupakan Role Model (model nyata) bagi anak didiknya. Bagaimana mungkin anak didiknya bisa rajin membaca jika tidak dimulai oleh gurunya. Bagaimana mungkin anak didiknya menghasilkan banyak tulisan jika gurunya tidak aktif menulis. Rasanya tidak adil jika guru hanya menuntut anak didiknya untuk rajin membaca dan menulis sementara dirinya sendiri tidak melakukan hal yang sama.

Bagaimana Guru Menulis ?

Sebenarnya, dengan menulis apa yang terjadi di kelasnya, guru telah berbagi tentang banyak hal. Karena apa yang terjadi di kelas tersebut bisa menjadi inspirasi bagi guru – guru lain. Blog adalah salah satu media bagi guru untuk mewujudkan hal tersebut. Apa yang guru tulis di blog, dapat dibaca oleh guru lain yang mungkin tidak hanya berbeda sekolah tapi berbeda wilayah. Sebagai contoh, Pak guru Agus Sampurno (Pemenang Acer Guraru Award 2011) misalnya. Beliau aktif menulis di blog tentang kegiatan – kegiatan yang dilakukan bersama siswanya di kelas. Selain itu beliau juga sering berbagi tips penanganan kelas yang tentu sangat bermanfaat bagi guru – guru lainnya.

Lain lagi dengan pak guru Wijaya Kusumah yang lebih akrab dipanggil Om Jay. Beliau aktif menulis apa saja di blognya. Dari aktivitas tersebut, Om Jay bisa menerbitkan banyak buku serta mendapatkan banyak penghargaan. Tak hanya itu, Om Jay juga sering diminta menjadi narasumber berbagai seminar dan workshop.

Lalu Guru, Menulislah…

Ayo Menulis

Tak ada ruginya guru menulis. Dua orang diatas merupakan sedikit dari contoh mereka yang memperoleh keuntungan dari menulis. Jika kemudian belum aktif dengan media internet seperti blog, guru bisa belajar. Karena memang pada dasarnya profesi guru adalah profesi yang menuntut untuk tidak pernah berhenti belajar. Oleh sebab itu, para guru mari rajin membaca, lalu menulislah. Dengan membaca kita bisa menjelajah dunia, dan dengan menulis dunia akan mengenal kita.

Clip to Evernote

19 thoughts on “Wahai Para Guru, Membaca lalu Menulislah…

  1. Kurnia Septa

    Bang, saya juga ingin rajin menulis dan ingin tulisannya jg bagus seperti mereka. Tapi begini bang, kadang sudah sampai rumah sudah hilang itu ide yg mau ditulis, kalau menulis jg takut jelek, gak berbobot. Bagaimana solusinya?

    Reply
  2. yoto

    Yang punya kemampuan, waktu dan pikiran untuk ditulis memang harus menulis. Yang tak bisa menulis ya membaca saja. Yang tak bisa dua duanya mau tak mau ya mendengarkan. #simple hidup harus berkualitas.

    Reply
  3. bangsaid

    Untuk yang pertama (Ide Hilang) : Jika sudah ada ide langsung menulis. Kalaupun belum sempat, catat ide tersebut di notes HP (Apalagi yang sudah punya smartphone). Nah kalo tidak memungkinkan, rekam dulu ide tersebut dengan fasilitas recorder di HP juga :-D. Nanti kalau sudah sampai di rumah baru dituangkan dalam bentuk tulisan.

    Yang kedua (Takut Menulis) : Terus saja menulis. Toh, rumah (

    Reply
  4. bangsaid

    Weh.. mantaff. Tumben bijak 😀
    Oke saya setuju yang terakhir : Simpel, hidup harus berkualitas

    Reply
  5. Bunda zahrah

    Setiap kali ada ide menulis, selalu urung. Baru mau nulis dah mikirin cucian, masak apa hari ini, setrikaan. Padahal pengeeeeeeennn sekali, jangankan untuk menulis, membaca saja tunggu waktu yg benar2 senggang, dan itu hanya ada pada waktu tengah malam yg semestinya untuk istirahat, jadilah membaca sambil tidur. Gmana donk bang?

    Reply
  6. AgusBinNgatimin

    Klo ane lebih suka membaca, klo menulis emang sedang dilatih.
    Di blog ane juga berusaha menulis, tp angot-angotan.
    Kadang maksain nulis, setelah saya baca ulang, ternyata kurang bagus. G jd di upload dech.
    Akhirnya blog mandeg…
    Hehe

    Reply
  7. bangsaid

    Ya memang harus dipaksa Gus.
    Ga perlu takut dibilang jelek tulisannya, lama2 karena sering juga akan semakin membaik kualitas tulisannya

    Reply
  8. Scoria Novrisa Dewi

    Kalo aku sih rajin menulis bang, rajin bangeeet… cuma klo nulis di blog itu kdg suka males ngen desain blog nya. Ngga tau knp, wlwpn cewe, estetika dlm menghias ini dan itu tuh kurang. hahahaa..
    Jd kebanyakan nulis cuma di Notes FB doank..
    Trus, untuk Guru nih.. Aku ada dpt tawaran utk ngajar jd Guru (wlwpn bkn kuliah jurusan pendidikan), nah aku suka bgt klo utk ngomong di depan umum (

    Reply
  9. bangsaid

    Kalo soal itu mah bisa belajar. Tapi yg terpenting dr sebuah tulisan tentunya isi tulisannya.

    Hiasan blog hanya pemanis saja. Kalo berlebihan malah membuat tidak nyaman

    Reply
  10. oborooodagiri

    Mudah – mudahan saya bisa mengikuti jejak Bp. Wijaya Kusumah dan Bp. Agus Sampurno menjadi guru yang aktif menulis di blog.

    meskipun tulisan saya masih ngaler ngidul dan belum professional.. hihi

    Artikelnya sangat bermanfaat… *kasih pop mie* *gubrak* hahahaha

    Reply
  11. bangsaid

    آمِيّنْ… آمِيّنْ… يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّنْ
    Lama2 juga tulisannya jadi bagus koq mas 😉
    Yg penting menjaga konsistensinya

    Reply
  12. genial

    saiia suka urutannya.. membaca terlebih dulu baru menulis.. artinya.. diharapkan tulisannya juga dengan wawasan iia kang iia.. mantap.. makasii pengingatnya kang 😉

    Reply
  13. Popi

    menulis itu pertama harus 'mood' dan ada keinginan yang kuat.
    Biasanya kalo udah ada jalan, kesananya lancar..

    Reply
  14. bangsaid

    Betul sekali. Dan mood bisa dibangun serta dipertahankan.
    Dan saya telah membuktikannya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge