7 Solusi Dilema Kamera On-Off Saat Belajar Daring

By | February 14, 2021

Sebulan lagi, pembelajaran online (selanjutnya disebut daring atau dalam jaringan) akibat pandemi Covid-19 akan berulang tahun. Tepatnya bulan Maret tahun 2020 lalu, semua aktivitas pembelajaran di sekolah ditiadakan. Praktis semua guru harus beradaptasi mencari formula pembelajaran yang tetap dapat membantu anak-anak belajar namun tetap aman.

Tidak hanya guru, pemerintah pun berupaya membantu para guru dengan memberikan berbagai alternatif seperti pembelajaran offline atau luring melalui media televisi edukasi atau menyediakan modul pembelajaran jarak jauh mulai dari tingkat PAUD hingga SMA. Ini semata-mata tanggung jawab pemerintah terhadap tujuan kemerdekaan negara ini dimana, meski kondisi pandemi kemdikbud harus tetap berupaya mencerdaskan bangsa.

sumber gambar : nairaland.com

Lewat berbagai pertimbangan dan juga uji coba, kami di sekolah mantap menggunakan moda pembelajaran daring dengan platform dari Microsoft 365 for Education, yakni Microsoft Teams, salah satu media yang cukup powerful untuk pembelajaran. Tak hanya sebagai sarana berinteraksi melalui chat atau obrolan dan distribusi penugasan, Teams juga dapat dipakai untuk bertatap muka dengan fitur konferensinya. Konsekuensinya, semua guru harus beradaptasi dan menjadi pembelajar aktif karena Teams adalah sesuatu yang baru untuk kami semua.

Baca Juga : Mendampingi Anak di Masa Pandemi Virus Corona

PR Kamera Video On-Off dalam Konferensi Teams

Sejak menggunakan Teams, yang menjadi PR kami para guru saat ini adalah penggunaan kamera video untuk anak-anak SMP ini. Sebagai pemangku kebijakan di sekolah dan dalam pemahaman saya terhadap tahap-tahap perkembangan anak, kami memutuskan bahwa penggunaan kamera video dalam konferensi dengan Teams hanyalah opsional alih-alih mewajibkannya.

Kami menyadari bahwa anak-anak dalam usia pra remaja ini sangat membutuhkan privasi. Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini, mewajibkan menyalakan kamera video dalam konferensi mungkin malah akan membuat mereka merasa malu, dimana kemungkinan ada ruang privasi saat anak-anak tidak nyaman orang lain tahu kamarnya seperti apa. Atau hal lain seperti misalnya potongan rambut atau pakaian yang dikenakan.

Namun di sisi lainnya, kami mulai menyadari juga bahwa ketika anak-anak tidak menyalakan kamera videonya, kami kehilangan banyak hal. Yang paling kentara adalah sulitnya membaca bahasa non-verbal dari anak. Padahal isyarat non-verbal seperti senyuman, anggukan, wajah yang cemberut, bingung, atau bosan yang biasanya sangat terlihat saat pembelajaran di kelas sangat membantu guru dalam memahami siswa lebih mendalam.

Dengan dapat menatap wajah satu sama lain meskipun hanya melalui layar, setidaknya dapat membangun trust (rasa percaya) baik dari anak ke guru, juga sebaliknya dari guru ke anak. Guru menjadi semakin yakin didengarkan atau disimak anak, dan anak menjadi tahu bahwa gurunya mempedulikannya. Rasa percaya adalah gerbang utama belajar.

Inovasi Solusi Kamera On-Off saat Pembelajaran Daring

Di tengah dilema antara menyalakan kamera atau tidak ini, guru memang harus terus berinovasi. Baik nyala ataupun tidak, keduanya sebenarnya memberikan dampak positif. Oleh karena itu kami pun mencoba berbagai strategi dalam kegiatan pembelajaran daring melalui konferensi baik di Teams dan juga dapat digunakan di moda lain seperti Zoom atau Google Meet.

Berikut beberapa strategi yang saya lakukan untuk membuat tatap muka maya ini menjadi lebih terasa :

1. Melakukan Kodifikasi

Kodifikasi Tatap Muka Maya

Hal pertama yang saya coba adalah melakukan kodifikasi seperti yang saya dapatkan ketika mengikuti sesi webinar besama Pak Hartoto salah seorang dosen di Universitas Negeri Makassar.

Dari beliau saya mencoba menerapkan kodifikasi dimana saya akan memberikan kode-kode tertentu saat dibutuhkan anak-anak untuk meningkatkan interaksi, membuat mereka fokus, sekaligus menjaga kuota mereka agar lebih hemat. Karena saya tahu, tidak semua murid saya memasang wifi di rumahnya. Ada di antara mereka yang masih memanfaatkan kuota operator, termasuk kuota belajar bantuan dari pemerintah.

Kodifikasi ini cukup efektif dalam pembelajaran. Ada kalanya saya membutuhkan semua wajah anak tampil berikut suaranya atau bahkan saat ketika anak-anak hanya perlu fokus mendengarkan. Kodifikasi ini saya sampaikan di awal pertemuan di satu semester dan kadang sesekali perlu diulang juga.

2. Menyepakati Aturan dan Manfaat Menyalakan Kamera

Selalu menyampaikan aturan sebelum mulai diskusi

Saya tidak ingin murid-murid saya merasa terpaksa menyalakan kamera. Setelah kodifikasi dilakukan saya selalu berusaha menyampaikan aturan sebelum melakukan diskusi pembelajaran. Biasanya 15 menit sebelum dimulai aktivitas tatap muka maya ini, saya menyapa lebih dulu anak-anak melalui Teams atau grup Whatsapp. Selain menyapa, saya juga menyisipkan aturan-aturan dalam diskusi.

Saya juga berusaha menyampaikan harapan saya agar mereka mengikuti aturan terutama menyalakan kamera dengan cara menuliskan manfaat kamera video menyala ketika tatap muka maya. Saya sampaikan kepada mereka bahwa dengan saling bertatap wajah, kita akan jadi lebih percaya satu sama lain, pun saya juga bisa jadi lebih tahu bahasa tubuh mereka saat belajar seperti sedih, bosan, gembira, yang tentunya akan membantu saya membuat belajar tetap menyenangkan.

Sejak semester genap ini saya coba konsisten terapkan ini, alhamdulillah setidaknya mereka mulai mencoba untuk menyalakan kamera saat pembelajaran di mulai. Dan saya juga selalu mengajak anak-anak untuk mendokumentasikan awal pembelajaran dengan berfoto bersama. Ini cukup efektif untuk memastikan bahwa semua anak memang ada di depan kamera sekaligus berseragam.

Baca Juga : Menjadi Guru Excellent

3. Tingkatkan Interaktivitas Melalui Pelibatan Anak dalam Diskusi

Setelah membuka pembelajaran dengan sama-sama berdoa atau minimal mengucapkan basmalah, saya biasanya menampilkan slide aturan. Disini saya melibatkan anak membacakan aturan tersebut. Dalam hal ini berlaku kodifikasi hijau untuk setiap anak yang disapa. Artinya anak harus menyalakan kamera sekaligus micnya.

Pun begitu untuk beberapa sesi tanya jawab. Anak yang bertanya diberikan kodifikasi merah, sedangkan yang ditanya baik oleh teman maupun guru mendapatkan kodifikasi hijau.

Melibatkan anak-anak dalam menjawab pertanyaan, membacakan bacaan/teks, bertanya, sekaligus penggunaan kodifikasi membuat anak-anak terbiasa dengan aturan. Pada saatnya mereka menyadari dengan sendirinya, ketika ditanya otomatis mereka menyalakan kamera dan mic. Sedangkan saat akan bertanya, mereka boleh hanya menyalakan mic saja.

4. Tanamkan Rasa Percaya pada Anak

Sampaikan Rasa Percaya guru pada anak

Untuk mendapatkan kepercayaan anak ketika belajar adalah, tidak memaksakan mereka. Oleh karenanya saya masih memberikan keringanan untuk anak-anak yang memang belum nyaman menyalakan kamera, mengalami gangguan perangkat, atau kendala kuota untuk belum sepenuhnya bisa mengukuti kodifikasi yang ada.

Akan tetapi saya terus sampaikan kepada mereka bahwa saya percaya mereka ada di depan saya meski nun jauh disana. Saya juga sampaikan harapan saya semoga pertemuan berikutnya anak tidak memiliki kendala dan dapat belajar dengan aturan-aturan yang ada. Tak lupa manfaat menyalakan kamera selalu saya sampaikan.

5. Gunakan Icebreaker yang Secara Tidak Langsung Membuat Anak Menyalakan Kamera

Berikan Icebreaker

Setelah mendapatkan materi training online icebreaker dari Persona Public Speaking tempo hari, saya mulai memasukkan beberapa icebreaker baik ketika akan mulai tatap muka maya, maupun di tengah-tengah pembelajaran. Untuk memastikan anak-anak ada di depan kamera, saya gunakan icebreaker yang membuat mereka menyalakan kamera semisal brain gym atau pertanyaan berantai dimana kodifikasi berlaku semisal yang menjawab pertanyaan mendapatkan kodifikasi hijau yang artinya harus menyalakan kamera dan micnya.

6. Sarankan Anak untuk Menggunakan Virtual Background

Gunakan Latar Belakang Virtual

Kadangkala anak-anak enggan menyalakan kameranya dikarenakan tidak percaya diri dengan lingkungan kamar atau rumahnya. Untuk mengatasi ini saya memberikan mereka alternatif untuk memasang latar belakang virtual sehingga privasi mereka tetap terjaga.

Saya pun sebagai guru menggunakan virtual backgroud sebagai model bagi mereka sehingga mereka tidak perlu merasa insecure.

Adakalanya juga saya sampaikan kepada anak-anak bahwa tidak mengapa semisal ada hal-hal yang membuat tidak nyaman seperti suara tukang tahu bulat, atau mama yang tiba-tiba lewat, adik yang ikutan tatap muka maya, karena itulah seninya belajar daring.

7. Aktifkan Fitur Waiting Room

Aktifkan Fitur Waiting Room

Hampir semua platform konferensi daring memiliki fitur ini termasuk Microsoft Teams. Langkah ketujuh ini merupakan langkah terakhir yang saya lakukan. Sebelum anak-anak benar-benar masuk ke dalam kelas maya, mereka harus menunggu di lobby sampai diizinkan masuk oleh host atau gurunya.

Biasanya di lobby tersebutlah saya mengirimkan pesan agar mereka siap menyalakan kamera dan mengikuti aturan yang ada.

Demikian beberapa alternatif solusi yang pernah kami lakukan untuk membuat tatap muka maya lebih interaktif di tengah dilema kamera video on-off. Memang butuh kesabaran sampai anak-anak merasa benar-benar nyaman untuk menyalakan kameranya. Dan tentunya butuh kerjasama dari setiap guru yang terlibat mengajar di kelas tersebut. Semua guru harus berada dalam standar yang sama dan terus mengingatkan tentang aturan penggunaan kamera.

Terakhir yang penting adalah jangan pernah memaksa. Karena kenyamanan adalah gerbang belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *