“Ajaibnya” Bahasa Al-Amanah : Cara Komunikasi Ampuh dengan Anak

By | September 25, 2018

Sebut saja namanya Bowo. Di sekolah, Anak itu sangat ‘spesial’ buat para guru. Sebenarnya dia cerdas dan kritis. Namun motivasi belajarnya perlu ditingkatkan dan didukung penuh oleh guru dan keluarga.

Hari ini saya mengajar di kelasnya. Agak kaget di tengah pembelajaran ketika mata saya melihat sesuatu melingkar di lehernya.

“Sepertinya pak Said melihat sesuatu di leher Bowo,” kata saya.

Dia tidak menjawab namuh malah mengangkat kerah bajunya seolah menutupi apa yang ada di lehernya.

“Masih ingat aturan di sekolah?” tanya saya.

Dia hanya senyum. Dan tertawa kecil.

“Baik, mau simpan sendiri atau Pak Said yang simpan?” tawar saya.

“Hehehe…,” dia terkekeh. “Pak Said mah kalau kasih pilihan mau ga mau harus nurut.”

Kali ini saya yang terkekeh.

“Tapi saya suka pakai Bahasa Al-Amanah ini lho pak di rumah,” sambungnya sambil merapikan kalung yang dikenakannya. “Dan ajaibnya, adik saya selalu nurut kalau saya yang ngomong.”

“Iya… Adiknya yang nurut. Kalau kamu, nurut?” canda teman satu kelompoknya.

“Hahahah,” Bowo tertawa. “Seperti kemarin pak. Saya kan mau adik saya simpan spidol warna-warninya. Saya cuma ngomong : Eh, kalau digunakan terus di rumah bisa cepat habis lho. Jadi tidak bisa dipakai di sekolah. Saya ngga nyuruh adik saya simpan, ehhh…. Dia langsung simpan lho pak. Keren deh Bahasa Al-Amanah,” ceritanya panjang lebar.

Saya tersenyum dan kagum padanya. Dia yang setiap hari terlihat slengean malah bisa mempraktikkan komunikasi seperti yang guru-gurunya lakukan di sekolah, Komunikasi non direct teaching.

Sukses Berkomunikasi dengan Anak 

Komunikasi Ampuh dengan Pendekatan Tidak Langsung 

Dia menyebutnya Bahasa Al-Amanah. Padahal aslinya, guru-guru di Al-Amanah berusaha bicara Bahasa Indonesia dengan kalimat lengkap dan pendekatan tidak langsung. Dengan pendekatan seperti ini, guru-guru berusaha membangun anak melakukan sesuatu karena otaknya berpikir.

Misal ketika anak menumpahkan minuman di lantai, kita bisa saja menyuruh secara langsung seperti meminta anak mengepelnya. Tapi pada dasarnya yang bekerja adalah kita, menggunakan tangan anak. Itu kenapa anak yang terbiasa disuruh, diperintah inisiatifnya rendah. Pernah kan bertemu orang dewasa yang kalau tidak ada yang mengawasi dia tidak bekerja? Atau kalau tidak disuruh ya dia tidak bekerja.

Akan lain jika melihat hal itu, respon pertama adalah tersenyum. Lalu berbicara dengan tahapan yang membuat anak berpikir lalu mengambil sendiri kain pel dan mengelapnya.

5 Tahapan Komunikasi dengan Anak

Coba perhatikan bagaimana pilihan kalimat yang saya gunakan untuk ‘melepas’ kalung yang Bowo pakai. Ada tahapan disitu. Saya tidak langsung melarang. Tidak perlu marah. Pertama saya hanya melihat dan tersenyum. Lalu saya menggunakan ungkapan tidak langsung dengan berkata : Sepertinya Pak Said melihat sesuatu di leher Bowo.

Tidak mempan, saya turun ke tahap di bawahnya dengan bertanya. Dilanjutkan dengan kalimat langsung atau pilihan yang sifatnya win-win, bukan win-lose. Sebelum akhirnya mengintervensi secara fisik (ini tidak dilakukan karena Bowo sudah langsung simpan barang tersebut setelah diberikan pilihan).

Kebanyakan orang tua yang putus asa dalam berkomunikasi dengan anak biasanya menggunakan pilihan yang win-lose. Misalnya saat anak tidak mau diam dan berlari-lari di halaman orang tua malah berteriak : “Mau diam apa terus lari-lari?” ya anak akan pilih lari-lari karena itu menyenangkan buatnya. Tapi akan jadi lain jika pilihannya : “Mau duduk tenang atau masuk ke dalam rumah?”

Begitupun dengan melarang. Bukan tidak boleh melarang. Tapi bagaimana caranya agar anak sadar dan berpikir sehingga dia tidak melakukan apa yang kita larang karena dia sadar. Jadi melarang pun bukan asal melarang.

Coba kita perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim AS melarang Ayahnya menyembah berhala di QS. Maryam : 42-45. Apakah Ibrahim langsung melarang dan melaknat? Tidak. Ibrahim alirkan pengetahuan karena pengetahuanlah motor penggerak manusia.

Berkomunikasi adalah poin utama dalam pengasuhan anak. Banyak masalah terjadi karena komunikasi yang tidak baik antara orang tua dan anak. Cobalah untuk memperbaikinya pelan-pelan. Rasakan keajaibannya. Bowo saja, anak SMP bisa merasakan dahsyatnya bahasa. Kenapa kita para orang tua tidak mau mencoba?

Clip to Evernote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge