Jangan Salah Berkomunikasi dengan Anak

By | March 9, 2016

Suatu siang seorang Ibu wali murid TK kami datang menjemput anaknya. Memang sudah jamnya untuk pulang. Cuman karena sang ibu sedikit terlambat, gadis kecil yang sebelumnya sudah menunggu akhirnya terlanjur ikut bermain bersama beberapa temannya yang juga belum dijemput. Yang menarik perhatian saya, sang ibu tidak lantas mendatangi langsung anaknya. Dari luar pagar dengan jarak sekira 5 meter, sang ibu memanggil si buah hatinya.

“Rani, ayo pulang. Mama buru-buru nih. Adik Farhan sedang tidur di rumah,” ajak sang bunda.

“Ihhh… Mama. Aku kan sedang main,” jawab sang anak tanpa menoleh kepada mamanya.

Awalnya ibu tersebut terlihat sabar dan menunggu sekira 2 menit sampai dia berkata lagi,

“Rani, buruan yuk. Kasihan adik Farhan sendirian di rumah,” masih dari luar pagar sekolah dan jarak yang cukup jauh.

Entar Ma. Aku kan belum selesai mainnya,” sang anak menjawab dengan nada yang cukup tinggi.

Sang Ibu masih coba diam dan menunggu sebentar hingga akhirnya keluar juga teriakannya,

“Rani!! Pulang ngga? Kasihan adiknya sendirian!” teriak ibu tersebut sehingga membuat gadis cilik tersebut kaget, menghentikan mainnya, lalu bergegas mengambil tas dan sepatunya dengan wajah murung dan mulut yang ketus.

Rani akhirnya ikut pulang, tapi tentu tidak dengan suasana yang gembira. Bisa ditebak nanti pas sampai di rumah. Rani mungkin bete lalu ngambek dan bisa jadi melakukan hal-hal yang bisa lebih menguji kesabaran sang bunda. Begitulah… penyebabnya hanya kesalahan komunikasi.

Saya garisbawahi kesalahan komunikasi tersebut.

Sang ibu akhirnya mengambil jalan pintas dengan berteriak dan marah. Seandainya pola komunikasi ini diubah, tentu hasilnya akan lain pula.

Misalnya, ketika sang bunda sudah tahu akan datang terlambat menjemput si buah hati, bunda langsung berinisiatif untuk menelepon pihak sekolah dan menitipkan pesan bahwa beliau akan terlambat menjemput dan menitipkan pesan agar sang anak menunggunya.

Sesampai di sekolah, Bunda tidak berteriak dari jauh. Namun datang langsung kepada anak sambil meminta maaf. Ya, meminta maaf penting dilakukan sekalipun oleh orang dewasa. Anak akan belajar dari kita sebagai orang dewasa bahwa ketika melakukan kesalahan, yang harus kita lakukan selanjutnya adalah meminta maaf.

Bunda datang kepada anak langsung, dan berbicara pada level yang sejajar (mungkin harus jongkok atau berlutut) serta memastikan eye contact dengan anak.

“Assalamu’alaikum Rani. Maaf ya, mama terlambat menjemputmu. Tadi mama harus menidurkan adik Farhan dulu. Dan sekarang adik Farhan sedang tertidur sendirian di rumah. Kita harus segera pulang agar ketika adik Farhan terbangun, dia tidak kebingungan.”

Bicarakan dengan lembut kalimat di atas di hadapan anak. Tentu responnya akan berbeda. Bisa jadi Rani akan minta main sebentar jika memang dia sudah terlanjur main.

“Tapi aku belum selesai main ma.”

“Mama akan tunggu. Perlu berapa menit? 5 menit cukup? Karena kita harus segera pulang agar adik Farhan tidak kebingungan.”

Rani akan main selama 5 menit, lalu kita ingatkan lagi bahwa waktu 5 menit sudah berlalu dan sekarang waktunya pulang. Rani pun pulang dan tidak dengan menggerutu ataupun marah karena dia tahu, dia harus segera pulang agar adiknya tidak kebingungan kalau-kalau terbangun.

Komunikasi yang salah membuat hubungan dengan anak menjadi tidak harmonis

Komunikasi yang salah membuat hubungan dengan anak menjadi tidak harmonis

Perbaiki Komunikasi dengan Anak

Ayah-bunda sekalian. Komunikasi dengan anak adalah poin penting agar kita diterima karena komunikasi adalah kunci hubungan baik dengan siapapun termasuk dengan anak. Komunikasi yang baik akan membantu anak mengembangkan kepercayaan dirinya terutama ketika berhubungan dengan orang lain. Komunikasi yang baik juga akan mengarahkan kepada hubungan-hubungan yang hangat serta terhindar dari konflik atau pertikaian.

Jadi mulai saat ini, mari perbaiki pola komunikasi kita dengan anak-anak kita.

Clip to Evernote

10 thoughts on “Jangan Salah Berkomunikasi dengan Anak

  1. Mugianto

    Susah bang, saya yang belum punya anak aja dah ngerasaain (Ponakan) sulitnya bimbing balita, hikz. Tapi emang mesti dipraktekin sih biar bagus, nice info lah Bang Said

    Reply
    1. bangsaid Post author

      yang penting dipraktikkan dengan konsisten 😉 Insya Allah berhasil

      Reply
  2. Aireni Biroe

    Adem pas baca bagian “Mama akan tunggu. Perlu berapa menit? 5 menit cukup? Karena kita harus segera pulang agar adik Farhan tidak kebingungan.” dibandingkan dengan teriakan agar cepat pulang 😀

    Reply
    1. bangsaid Post author

      kita yang baca aja adem ya. Apalagi anak yang dengar 😉

      Reply
  3. Hastira

    betul ,a tapi kadang emosilah ayng didahulukan, krn banyak pekerjaan wanita shg masih inget belum selesai pekerjaan di rumah , ada masalah dg anaknya, akhirnya emosilah yang dipakai. Nah perlu penataan emosi dulu agar bisa berkomunikasi dg baik

    Reply
    1. bangsaid Post author

      Betul… disini pentingnya sabar. Sabar dalam menahan emosi.

      Reply
  4. retno

    Sebagai ibu kadang saya juga kelepasan…alhamdulillah udah ga separah dulu hehehe…kadang dengan cara dibisiki anak akan lebih mendengarkan dan mengerti. TFS…artikelnya menjadi reminder buat saya…

    Reply
    1. bangsaid Post author

      sama-sama, senang bisa berbagi.
      Yang penting dibiasakan agar konsisten.

      Reply
    1. bangsaid Post author

      Yups… komunikasi dengan lembut seharusnya dengan siapa saja. Tapi berhubung anak itu yang terdeka dengan kita dan selalu belajar dari kita, disitu kita mesti waspada agar apa yang dipelajari anak adalah yang benar dan terbaik.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge