Mimpi Punya Rumah Sendiri

By | November 15, 2015

Tahun 2015 sudah berada di penghujungnya. Sedikit menengok ke belakang, saya pernah menuliskan berbagai impian saya di tahun 2015 ini. Saya memang tipikal orang yang tidak ingin hidup mengalir begitu saja. Buat saya, target hidup ibarat peta yang dapat mengarahkan saya menjadi lebih baik dari hari ke hari atau dari tahun ke tahun. Harus ada peningkatan. Seperti kata para motivator-motivator di luar sana.

Dan saya sangat percaya bahwa menuliskan mimpi kita menjadikan kita selangkah lebih dekat menggapainya. Tahun 2014 kemarin misalnya, saya bermimpi dapat mengunjungi salah satu pesantren terbaik di Indonesia. Di pertengahan tahun Allah mewujudkannya. Pun begitu ketika saya bermimpi mengunjungi sekolah-sekolah di Singapura dan Malaysia. Semuanya Allah permudah.

Tahun ini salah satu mimpi saya adalah memiliki rumah sendiri. Ya, dengan gaji sebagai guru yang pas-pasan. Dengan uang tabungan alakadarnya yang juga harus dipersiapkan untuk pendidikan anak dan biaya naik haji. Saya berkeinginan kuat memiliki rumah sendiri, hasil keringat sendiri. Dan lagi-lagi syukur Alhamdulillah, akhir bulan nanti akan diserah-terimakan kunci rumah saya pertanda rumah yang saya impikan menjadi milik saya.

Rumah Sangat Sedehana ini mudah-mudahan jadi langkah awal untuk yang lainnya

Rumah mungil sederhana di pinggiran Tangerang itu punya kisah yang cukup panjang. Tidak ujug-ujug langsung sanggup saya beli. Memang sebelumnya, saya berkeinginan untuk memiliki rumah di tengah kota Tangerang. Tapi yang namanya rumah di tengah kota, harga tanahnya saja sudah luar biasa. Kalau mengandalkan penghasilan saat ini, saya harus menabung hingga beberapa bulan kedepan agar tersedia dana untuk uang muka KPR ke bank. Jadi target memiliki rumah di tengah kota sementara disimpan dulu untuk tahun-tahun yang akan datang.

Ketimbang membayar uang sewa rumah saya dan isteri akhirnya memutuskan untuk segera membeli rumah. Karena belum ada dana membeli secara cash, membeli dengan fasilitas KPR dari bank adalah salah satu solusinya. Mulailah sejak bulan April kemarin kami hunting rumah-rumah murah di pinggiran kota Tangerang. Saat sedang jalan-jalan di TangCity kami dipertemukan dengan seorang marketing perumahan dari developer besar yang mengembangkan perumahan elit di Bintaro. Saya pun memberanikan membooking rumah yang ternyata harus melalui proses indent booking dan itu pun harus menunggu 2 tahun mencicil DP alias Duit Panjer baru bisa serah terima rumah.

Allah berkehendak lain, proses pembelian rumah di daerah Cadas Tangerang melalui KPR tersebut harus gagal. Saya dan isteri pun terus berikhtiar berkeliling melihat rumah-rumah di perumahan terdekat yang dikembangkan bukan oleh Developer semacam Jaya ataupun Alam Sutera dekat sekolah tempat saya mengajar. Tak jauh dari perumahan tempat rumah yang ingin kami beli sebelumnya, ada dua buah perumahan yang cukup menarik perhatian saya. Yang satu desain rumahnya cukup bagus, namun kelihatan developernya kurang serius. Ini terlihat dari jalan perumahan yang masih berupa tanah. Sedangkan yang satunya lagi dari ukuran rumah lebih kecil, namun terlihat kesungguhan developer membangunnya dari pembangunan gerbang yang rapi dan bagus bentuknya. Jalan perumahannya juga sudah dicor dan selokan yang cukup besar.

Tapi tidak langsung tertarik dengan salah satu dari keduanya. Saya dan isteri tetap berikhtiar mencari yang terdekat dengan tempat kerja. Salah satunya di daerah pusat Kabupaten Tangerang di Tigaraksa. Tapi setelah beberapa hari keliling, pilihan kami akhirnya jatuh kepada salah satu rumah dari perumahan yang pertama kami datangi. Tentu saya pribadi memilih yang jalan perumahannya sudah dicor itu. Mulailah saya tanya-tanya ke marketingnya. DPnya lumayan juga, tapi masih bisa dicicil sejumlah gaji saya selama 5 kali. Ini artinya gaji saya selama 5 bulan kedepan harus full dialokasikan untuk rumah. Untungnya masih ada sedikit uang tabungan untuk kebutuhan sehari-hari. Sewa rumah yang sekarang ditempati dibayar dari gaji isteri.

Alhamdulillah… setelah 6 bulan menahan diri :-D, kami pun secara sah memiliki rumah *kata si Developer. Proses Akad Kredit telah dilakukan, dan saya pun telah secara resmi menjadi penghutang di Bank. Mudah-mudahan Allah mempermudah proses lainnya dan memampukan kami untuk memiliki rumah impian di tengah kota pada tahun-tahun mendatang. Yang penting saat ini setelah memiliki rumah, yang dipikirkan oleh saya dan isteri adalah merenovasi rumah (membangun dapur) serta mulai mencicil membeli berbagai peralatan rumah tangga. Semoga rumah ini mendatangkan keberkahan untuk kami sekeluarga.

Jadi sekali lagi teman, jangan anggap remeh mimpimu. Tulis mimpimu, visualisasikan. Minta doa pada orang tua, insya Allah segalanya mudah bagiNya.

5 thoughts on “Mimpi Punya Rumah Sendiri

  1. Jefry Dewangga

    Semangat mas biar bisa punya rumah sendiri, lebih giat lagi bekerjanya… 😀 Kalau mau blog ini kan juga bisa di moneteize mas, atau mas ngelakuin bisnis online lainnya.

    Reply
    1. bangsaid Post author

      Hehe… alhamdulillah. Sekian lama ngeblog, bisa dapet duit juga dari sini

      Reply
  2. Irwan

    Wah selamat mas akhirnya kesampaian juga mimpinya
    Kalau rumah kayanya memang impian semua orang termasuk saya, tapi kalau saya si entah kapan ni punyanya
    Mudah2an tahun depan bisa punya rumah sendiri 🙂

    Reply
  3. Pingback: Perjuangan Punya Rumah Sendiri ~ Bangsaid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *