Refleksi Hari Guru : Apa Sudah Layak Guru Jadi Teladan ?

By | November 25, 2011

Setelah sebelumnya saya menulis tentang guru dan kenangan bersama mereka di Hari Guru Nasional tahun lalu, akhirnya hari ini saya benar – benar merayakan hari tersebut dengan status sebagai guru. Tak pernah dibayangkan sebelumnya secepat ini saya bergabung sebagai bagian dari institusi pendidik bersama guru – guru saya yang sangat saya banggakan. Meski saya bercita – cita ingin punya sekolah, tapi menjadi guru saat ini merupakan salah satu anugerah yang sangat indah.

Dan seperti ritual tahunannya, hari ini Hari Guru Nasional dirayakan dengan Upacara pengibaran bendera.

Saya sendiri baru dihubungi oleh kepala sekolah tadi malam untuk mewakili sekolah di Upacara Hari Guru Nasional di Kabupaten Tangerang yang diselenggarakan di Citra Raya, Cikupa. Karena tak punya seragam PGRI (Maklum guru baru), akhirnya saya dipinjamkan oleh teman saya yang lain.

Pagi hari, saya berikut 3 orang guru lainnya dari sekolah kami berangkat meninggalkan anak – anak didik untuk beberapa saat. Karena sekolah kami tidak meliburkan siswanya seperti sekolah lainnya, kepala sekolah hanya mengirimkan 4 orang sebagai perwakilan.

Upacara Hari Guru Nasional Kabupaten Tangerang

Upacara Hari Guru Nasional Kabupaten Tangerang

Tibalah saya di lokasi upacara dengan perut kosong sehingga harus clingak – clinguk mencari sarapan. Ada siomay yang cukup ngga enak akhirnya terpaksa masuk ke dalam perut. Baru memasukkan 2 sendok hujan mengguyur Citra Raya sehingga memaksa para guru yang hadir untuk berteduh. Tak lama, hanya sebentar hujan berhenti tepat ketika upacara akan segera dimulai.

Karena sudah lama tak ikut upacara pengibaran bendera (di sekolah kami Upacara tanpa ritual pengibaran bendera), tangan saya cukup pegal untuk hormat lama kepada bendera merah putih. Terakhir kali hormat bendera merah putih ya saat SMA. Saat kuliah meski hampir setiap senin upacara di kampus (Kampus Ikatan Dinas, Upacaranya rutin lho), saya tak pernah hormat bendera merah putih karena sejak awal tergabung dalam korps drumband yang mengiringi pengibaran bendera dengan lagu Indonesia Raya.

Ada yang menggelitik saat pelaksanaan upacara ini. Peserta upacara yang notabene hampir 100% adalah guru, tidak menampakkan jati dirinya sebagai guru. Ada yang berbicara bebas (merumpi), duduk – duduk santai di belakang, merokok, bahkan ada yang makan sementara kami di bagian depan duduk tegak penuh hikmat mengikuti upacara.

Lantas saya berpikir, bagaimana anak muridnya ya kalau gurunya saja seperti ini?

Pemerintah pusat mengambil tema sentral dalam rangka Hari Guru Nasional atau bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang ke-66 ini yaitu “Meningkatkan Peran Serta Guru dalam Membangun Karakter Bangsa”.

Saya membuat tebal kata “Karakter” mengingat sungguh guru mempunyai peran yang memang sangat penting dalam membangun bangsa yang berkarakter. Apakah kita bisa mengharapkan generasi yang berkarakter jika gurunya saja tidak berkarakter? Saya jadi ingat peribahasa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Seyogyanya para guru sadar bahwa tugas mereka sungguh berat. Bukan sekedar menuntaskan kewajiban duduk manis di depan kelas atau mencatat di papan tulis. Jauh lebih besar dari itu semua.

Kalau di sekolah saya ditanamkan bahwa, menjadi guru adalah kebanggaan. Karena guru merupakan penerus dakwah Rasulullah Saw yang bertugas menjadikan generasi yang selalu lebih baik dari sebelumnya. Dan ini sungguh walaupun berat menjadi tumpuan bahwa menjadi guru bukan karena tidak ada pekerjaan lain, bukan karena mentok tidak diterima kerja di perusahaan, bukan juga karena pekerjaannya tampak mudah hanya duduk di depan kelas serta pulang lebih awal disbanding karyawan. Menjadi guru adalah berkah.

Satu lagi, sungguh miris setelah selesai upacara melihat sampah berserakan dimana – mana. Bahkan dengan pede-nya sekelompok guru yang masuk ke dalam mobil meninggalkan sampah bekas makannya begitu saja.

Mau dibawa kemana karakter bangsanya?

 

 

Clip to Evernote

3 thoughts on “Refleksi Hari Guru : Apa Sudah Layak Guru Jadi Teladan ?

  1. Kurnia Septa

    Tantangannya semakin berat, arus juga semakin deras,
    apakah kita yg muda mampu melawan arus itu? Atau malah ikut dalam arus konvesional tersebut. #bimbang

    Reply
  2. KURIKULUM 2013 | trye

    […] yang katanya mengarah pada pendidikan karakter. Saya tambah geli lagi, mengingat kejadian di Upacara peringatan Hari Guru Nasionaldan Hari Pendidikan Nasional beberapa waktu lalu, dimana banyak guru mengobrol ketika upacara. […]

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge