Ketika Musibah dan Masalah Datang

By | October 16, 2017

Tadi malam, saya seharusnya hadir dan memimpin rapat warga di perumahan. Saya berusaha menggegaskan perjalanan saya agar pas bada Isya sebelum jam 8, saya sudah tiba di rumah.

Ternyata Allah berkehendak lain. Saya mendapat musibah dalam perjalanan sehingga saya harus menghabiskan waktu satu jam lebih yang berakibat saya tidak bisa menghadiri apalagi memimpin rapat karena hingga jam 8 urusan saya belum selesai.

Saat-saat seperti ini saya selalu ingat bagaimana Rasulullah saw menghadapi masalah. Suatu ketika ketika beliau berjalan kaki, tiba-tiba kaki beliau tersandung batu. Tahu bagaimana pikiran beliau ketika itu terjadi?

“Apa yang salah dengan saya, sehingga Allah takdirkan batu ini ada di jalan dan kaki saya tersandung?”

Rasulullah saw berpikir keras. Tidak sedikitpun terlontar “siapa yang menaruh batu di tengah jalan?” atau pikiran-pikiran lain seolah-olah orang lainlah yang menjadi penyebab masalah.

Kisah ini sangat membekas di kepala saya. Begitu pun malam ini. Ketika musibah terjadi yang saya pikirkan adalah, sepertinya ada masalah dengan ibadah saya sehingga Allah izinkan saya mendapat musibah. Atau… Ya Allah, saya teringat pesan WA seorang bapak yang dikirimkan kepada saya. Isinya ketidaknyamanan beliau terhadap saya yang kemudian disusul oleh maaf saya.

“Apa sang bapak sangat marah dan sedih?” Astaghfirullah… Mungkin ini salah satu penyebab Allah takadirkan musibah ini kepada saya.

Tidak mudah bagi saya berpikiran seperti di atas. Pikiran tersebut tidak langsung bisa saya praktikkan setelah membaca kisah Rasulullah. Perlu Perjuangan besar dan latihan untuk sampai kepada hal tersebut. Apalagi untuk saya yang dididik tidak seperti saya mendidik anak saya sekarang karena keterbatasan ilmu orang tua saya.

Ayah-bunda. Penting kita ajarkan sikap anak-anak kita ketika berhadapan dengan masalah atau musibah. Masih ingat ketika kita kecil, saat tersandung, orang tua kita menepuk lantainya lalu bicara

“Nih, nakal ni lantainya,” lalu menepuk-nepuk lantai lagi.

Didikan seperti inilah yang melahirkan orang-orang dewasa yang langsung sibuk menyalahkan orang lain ketika mendapat masalah.

Atau ketika anak melakukan kesalahan, lalu dimarahi sehingga kemudian untuk menghindari kemarahan kita anak menjadi tidak jujur, menghindari kesalahan, lempar batu sembunyi tangan, atau mencari kambing hitam. Pola asuh seperti inilah yang membentuk orang-orang dewasa yang tidak jujur, sibuk menyalahkan orang lain, dan mencari kambing hitam atas masalahnya.

Jejak-jejak perlakuan orang tua itu membekas hingga anak dewasa. Jejak-jejak negatif melahirkan anak-anak yang selanjutnya berubah menjadi dewasa yang penuh dengan pikiran negatif.

Jadi ayah bunda, ajari anak kita berhadapan dengan masalah. Masalah ada untuk diselesaikan. Musibah dan ujian datang tanda Allah sayang agar derajat kemuliaan kita bertambah di hadapannya. Jangan sekali-kali memarahi anak ketika dia melakukan kesalahan, karena Allah pun tak timpakan dosa untuk yang yang belum kuat akal pikiran (akil baligh). Cukup jadikan informasi kekurangannya, untuk membuat program bermutu yang bermanfaat untuk hidup mereka di masa mendatang.

Clip to Evernote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge