Skill “Making Connection” dan Bekal Hidup Anak

By | May 4, 2017
Brain Connection

“Making Connection” adalah salah satu dari 7 skill untuk membangun “Executive Function” di otak

Kemarin, Rabu (3/5) saya dibuat repot oleh salah seorang siswa. Ketika dia mengeluarkan buku matematikanya, buku tersebut tampak basah seperti terendam air sehingga saya penasaran dan bertanya apa yang terjadi.

Siswa tersebut membuka tasnya dan menunjukkan isinya kepada saya. Betapa kagetnya saya ketika dia mengeluarkan tas goodie bag kertas yang telah hancur.

“Astaghfirullah… ,” desis saya setelah mengetahui ternyata pakaian olahraganya yang basah akibat kehujanan pulang dari lapangan futsal ternyata dimasukkan kedalam tas yang terbuat dari kertas. Inilah yang kemudian membuat seluruh isi tasnya (beberapa buku tulis dan buku bacaan) basah.

Skill “making connection” yang rendah

Satu dari 7 keterampilan dasar hidup dalam buku Mind in the making karya Ellen Galinsky adalah skill making connection. Menurut Oxford Dictionary, Koneksi adalah dimana orang atau suatu benda terhubung dengan benda yang lainnya. Kemampuan membuat koneksi ini dibangun secara bertahap sejak bayi, mulai dari menghubungkan benda dengan benda, benda dengan kejadian, kejadian dengan kejadian, hingga hal-hal abstrak lainnya.

Berkaca dari tulisan Galinsky, siswa saya ini belum memiliki kemampuan “making conncetion” yang memadai. Lihat, bagaimana dia menghubungkan pakaian yang basah dengan kertas.

“Kenapa tasnya bisa hancur?” tanya saya.

“Basah,” jawabnya singkat.

“Memangnya kenapa bisa basah?” tanya saya lagi.

“Kena hujan pak,” jawabnya namun tak sesuai harapan saya sehingga membuat saya tersenyum sabar.

“Kertas kan menyerap air pak,” timpal temannya.

“Ya… kertas adalah bahan yang menyerap air. Supaya tidak tembus dan hancur, kita butuh bahan yang bagaimana?”

“Plastik. Kan plastik kedap air,” jawab temannya yang lain.

Dalam tanya jawab ini, saya sedang membangun kemampuan making connection anak. Pertanyaan-pertanyaan tadi mendorong siswa menjadi berpikir ketimbang kita memarahinya.

Pentingnya Skill “Making Connection”

Kejadian yang saya alami tadi menjadi pembelajaran untuk saya bahwa kemampuan making connection ini sangat dibutuhkan anak. Di dalam bukunnya Galinsky mengatakan bahwa membangun 7 keterampilan dasar hidup ini adalah cara untuk membangun executive function. Sebagai CEO-nya otak, executive function bertanggung jawab terhadap perencanaan dan memastikan segala sesuatu yang otak lakukan berjalan dengan sempurna hingga selesai.

Ketika anak mengalami masalah dengan executive function, setiap pekerjaan yang membutuhkan perencanaan, daya ingat, manajemen waktu, dan pemikiran yang fleksibel menjadi terganggu. Contohnya yang dialami siswa saya, seluruh isi tasnya menjadi basah. Tentunya, jika making connection siswa tersebut tinggi, dia sudah dapat merencanakan tas seperti apa yang perlu dia bawa untuk pakaian kotor dan basahnya.

Membangun Skill Making Connection sebagai Bekal Hidup Anak di Masa Mendatang

Mengingat pentingnya skill ini dan perlunya kematangan executive function di usia dewasa nanti, orang tua maupun guru perlu memahami dan membuat program yang dapat membangun kemampuan making connection. Bayi yang diberikan Allah modal dasar sebagai ‘peneliti’ sudah mulai making connection sebelum kita mengajarkannya. Misalnya bayi paham bahwa yang menggantikan popoknya atau memberinya ASI adalah Ibu. Bayi juga mengenai suara ibunya. Sehingga ketika ibu datang dengan suara yang tenang dan teratur bayi pun mulai tenang dan merasa nyaman karena dia tahu ibunya membuatnya nyaman.

Kemampuan making connection ini harus terus dibangun seiring bertambahnya usia. Semasa bayi, pendampingan dari ibu yang bermutu adalah ketika ibu selalu mem-verbal-kan apa yang akan dilakukan bersama bayi. Sehingga bayi mulai belajar making connection sendiri dari bahasa dan perlakuan ibu padanya. Misalnya ibu berbicara kepada bayinya sebelum memakaikan jaket atau baju tebal.

“Mama akan pakaikan jaket untukmu. Cuacanya dingin. Dengan memakai jaket yang tebal, tubuh akan terasa hangat,” lalu Ibu memakaikan jaket pada bayinya.

Dari bahasa ibu tersebut bayi pun making connection bahwa jaket memiliki hubungan dengan cuaca yang dingin.

Michigan State University menyarankan beberapa kegiatan berikut yang dapat membangun kemampuan making connection, diantaranya :

  • Menyediakan banyak kesempatan bagi anak untuk bertemu dengan banyak orang, berinteraksi dengan alam dan juga banyak benda-benda. Bicara dengan anak tentang apa yang diamati. Semakin banyak yang dibicarakan akan semakin baik bagi anak. Contohnya ketika mengajak anak melihat awan, bicara bahwa awan memiliki bentuk dan ukuran serta jenis-jenisnya. Tentunya orang tua haru memiliki informasi yang banyak untuk disampaikan kepada anak.
  • Berikan mainan dengan banyak tujuan (mainan yang dapat merespresentasikan banyak benda dan kejadian). Contohnya balok, dapat disusun menjadi banyak benda dan bangunan. Balok juga dapat diklasifikasi berdasarkan bentuk dan ukuran.
  • Biarkan anak melakukan eksplorasi. Orang tua atau guru hanya bertugas menyediakan banyak alat dan bahan dan mendampingi anak. Biarkan anak yang memutuskan apa yang akan digunakan, kapan harus memulai, dan bagaimana melakukannya. Melalui eksperimen dengan benda, anak akan menemukan banyak hubungan (koneksi).
  • Jadilah role model. Ketika mendampingi anak, orang tua dan guru dapat menjadi model dalam menggunakan dan melakukan eksperimen terhadap alat dan bahan. Sesekali orang tua dan guru dapat memberikan masukan dan dorongan yang dapat membantu anak menemukan banyak koneksi.

 

Clip to Evernote

8 thoughts on “Skill “Making Connection” dan Bekal Hidup Anak

  1. maswaw

    Luar biasa.

    Thanks bang, menginspirasi sekali.
    Saya jadi teringat dengan salah satu guru saya dulu. Saya kira guru saya itu cecer saya dengan banyak pertanyaan, ternyata ada manfaatnya kita jadi berpikir “making connection”.
    Pernah juga saya ikut psikotest, pengujinya nyecer saya dengan pertanyaan yg berkait2an
    maswaw recently posted…Panduan Lengkap Cara Menutup Kartu Kredit yang BenarMy Profile

    Reply
  2. Fauziah

    Makasih Pak.. menginspirasi sekali.. wah ketemu blogger yang sekaligus pendidik nih..
    eduinspirasi(dot)com

    Reply
  3. Eni Rahayu

    Menginspirasi sekali, bang said guru juga ya? Saya kok merasa siswa sekarang terlalu banyak hape-an jadi making koneksinyan kurang.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge