Bagaimana Menyiapkan Anak Masuk TK?

By | March 13, 2017

Banyak yang bertanya kepada saya tentang kapan usia sekolah anak. Khususnya kapankah anaknya siap untuk dimasukkan ke sekolah dalam hal ini TK serta bagaimana menyiapkan anak masuk TK. Kekhawatiran beberapa orang tua, jangan sampai terlalu dini bertolak belakang dengan semangat mereka agar anaknya semakin siap lagi masuk ke jenjang sekolah dasar. Sehingga beberapa dari mereka memilih memasukkan anaknya ke TK sedini mungkin. Atau mengambil jalan pintas dengan memasukkan mereka ke lembaga les ca-lis-tung.

Jika dimasukkan ke sekolah yang berorientasi pada perkembangan anak, tidak jadi masalah. Guru akan punya solusi program yang membangun anak agar berkembang sesuai usianya. Namun akan menjadi masalah jika anak dimasukkan ke sekolah yang memfokuskan pada kemajuan akademik seperti mengejar kemampuan baca-tulis-berhitung tanpa mengindahkan perkembangan anak yang seharusnya. Alih-alih anak menjadi bosan dengan sekolah akibat terlalu ‘dini’ belajar di sekolah formal.

Bagaimana melihat kesiapan anak masuk TK?

Mengacu kepada tahap perkembangan Erik Erikson, anak usia pra sekolah (2- 4 tahun) masuk pada tahap autonomi (membangun penguasaan diri). Pengasuhan dan program yang bermutu di usia ini akan menghasilkan anak yang mampu menguasai dirinya. Sebaliknya, kesalahan program di usia ini akan membentuk anak menjadi pribadi yang malu dan ragu.

Oleh karena itu, sebenarnya sangat mudah untuk menentukan indikator apakah anak sudah siap masuk sekolah ke jenjang Taman Kanak-kanak. Sementara kebanyakan dari kita fokus kepada dasar pemahaman huruf dan angka, sebenarnya Indikator utama kesiapan anak berada di TK adalah I self-help skill, atau kemampuan menolong dirinya sendiri. Jika kemampuan ini sudah tampak pada anak, insya Allah dia sudah siap untuk masuk ke TK. Namun jika belum tampak, tugas kita sebagai orang tua adalah menyiapkannya.

Bagaimana Menyiapkan Anak Masuk TK?

Di bawah ini adalah beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua agar anak siap masuk ke sekolah khususnya jenjang Taman Kanak-kanak :

Bangunlah kemandirian anak

Karena kemampuan self-help adalah indikator utama kesiapan anak masuk TK, maka tugas utama kita adalah membangun anak agar mampu mandiri (sesuai dengan usianya). Dorong anak agar mampu melepas-pakai pakaiannya sendiri dan mencuci tangan sendiri. Berikan kepercayaan agar anak dapat menggunakan kamar mandi tanpa asistensi. Biarkan anak terlibat dalam menyiapkan peralatan makannya serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk makan sendiri.

Mencuci_Tangan_Sendiri

Berikan kepercayaan pada anak untuk mencuci tangannya sendiri

Ajarkan tanggung-jawab

Ada yang menarik dari salah seorang teman saya yang juga seorang blogger sekaligus ibu dua anak. Mba Gesi cantik (rikuwes), kami memanggilnya, memberikan tanggung jawab kepada Aiden anaknya yang masih berusia 1,5 tahun. Aiden diberikan tugas menaruh sendiri pakaian kotornya ke dalam keranjang pakaian kotor. Kegiatan ini saya contoh dan terapkan kepada anak saya, Alaric. Dia punya tanggung-jawab menaruh pakaian kotor miliknya sendiri ke tempatnya. Di lain kesempatan, kami percayakan Alaric untuk mengosongkan tasnya setelah digunakan, mengisi botol minumnya, serta merapikan mainan yang telah dimainkannya.

Buat Rutinitas

Dalam sebuah sesi workshop bersama Dr. Pamela Phelps pendiri Sekolah Creative di Florida, saya menyaksikan betapa rutin dan ritual yang dibangun kepada anak akan membentuk anak menjadi lebih sukses di usia dewasanya dibandingkan anak tanpa rutinitas. Oleh karena itu, sebuah keluarga perlu membentuk rutinitas termasuk rutinitas anak. Kegiatan setelah bangun tidur hingga tidur lagi yang dirancang sedemikian rupa serta dilaksanakan dengan konsisten, akan membuat anak terbiasa dan memiliki pola hidup yang baik.

Membaca dan Literasi

Sebagai orang tua, kita harus mengatur waktu agar dapat membaca (dengan suara yang terdengar) berbagai jenis buku bersama anak. Kegiatan ini selain membangun kemampuan bahasa anak, juga akan membangun kemampuan membacanya. Untuk panduan memilih buku yang tepat sesuai usianya, silahkan simak tulisan di blog saya ini. Kadang-kadang kita membaca gambar pada buku dan menjelaskan berbagai macam pengetahuan bersama anak. Untuk membangun kemampuan menulisnya juga, libatkan anak dalam kegiatan tersebut. Sebagai contoh, kita bisa mengajak anak menulis bersama daftar belanja sebelum berangkat ke pasar atau supermarket. Dalam tahap awal mungkin anak akan menulis dengan gambar.

Ajarkan cara mengungkapkan perasaan

Ini penting sekali untuk anak usia balita hingga pra sekolah. Karena tahap resolusi konflik mereka baru pada tahapan fisik dan serangan verbal, tugas kita adalah mengajarkan ‘bahasa’. Berikan kesempatan anak untuk mengungkapkan perasaannya lebih banyak. Bantu mereka menyelesaikan masalahnya.

Demikianlah hal-hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk membangun kesiapan anak masuk ke TK. Ingat, bukan membaca dan berhitung patokannya. Tapi siapkan anak untuk mampu menolong dirinya sendiri.

Semoga bermanfaat…

 

Oleh : Said Rahman
Said Rahman atau biasa disapa @bangsaid adalah seorang guru, blogger, dan traveler. Mengajar di Sekolah Al-Amanah Tangerang, sekolah yang fokus pada perkembangan anak, bangsaid membagikan pengalamannya berinteraksi dengan anak, sebagai guru, dan traveler di blog pribadinya bangsaid.com.

Kontak : [email protected]

Clip to Evernote

8 thoughts on “Bagaimana Menyiapkan Anak Masuk TK?

  1. Mei Wulandari

    Halo Pak Guru, secara langsung aku setuju sama semua poin di atas, sebgai orang tua kita jg harus pandai menempatkan kapan anak harus bljr mandiri, calistung, tggjawab dll
    Terlepas dari itu, banyak baca dan nggak memaksakan kehendak itu jg penting. Tfs mas

    Reply
    1. bangsaid Post author

      Yups, orang tua harus rajin baca dan cari informasi untuk mendidik anaknya

      Reply
    1. bangsaid Post author

      :V
      😀
      Salam kenal balik dari Alaric buat Aiden dan UBii

      Reply
  2. Witri Prasetyo

    Makasih Bang atas sharingnya, aku memang lagi butuh sharing kayak gini. Anak aku udah 2 tahun nyari sekolah yang memang ngajarin soal kemandirian gitu, tapi karena tempatku di desa kali yah, jadi sulit. PAUD/KB sih ada, tapi kok ya teuteup diajarin calistung… nyesek

    Reply
  3. Mak Irits

    Biasanya anak sendiri yg minta sekolah krn liat temannya yg lbh besar udah sekolah. Padahal usianya baru tiga tahun

    Reply
    1. bangsaid Post author

      Anak-anak memang begitu. Masih terpengaruh dengan lingkungan. Kalaupun anak mau sekolah, pastikan sekolahnya yang memahami perkembangannya.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge