Belajar dari Crayon Sinchan

By | December 30, 2016

Siapa diantara teman-teman semua yang suka nonton kartun Crayon Sinchan? Berhubung sudah tidak punya TV (physically) di rumah lagi, saya hampir tidak tau jadwal acara di televisi. Termasuk kartun Crayon Sinchan ini apakah masih tayang di TV atau tidak.

Dulu semasa SMA, ketika Crayon Sinchan baru-barunya muncul di sebuah stasiun swasta di Indonesia, saya sangat menggemarinya. Setiap Ahad saya pasti menyempatkan untuk menonton ulah ‘tengil’ bocah TK yang mengocok perut ini. Sangking senangnya nonton Sinchan, saya juga mengoleksi beberapa komiknya.

Di Jepang sana, Sinchan adalah tontonan remaja 15 tahun ke atas. Di negara kita, menjadi tontonan anak dengan kode BO (Bimbingan Orang Tua) yang artinya harus ditonton dengan pendampingan orang dewasa. Tentu tujuannya agar dapat menjelaskan kepada anak mana yang baik dan buruk dari tontonan yang sangat menghibur tersebut. Saya sendiri karena memang sudah menuju dewasa tentu sudah dapat memilah milih mana yang baik dari kelakuan Sinchan.

Hari ini di Indonesia 

Kemarin sore, setelah mengantri panjang mengurus kepindahan kelas BPJS mandiri ada hal unik yang saya temui di jalan pulang menuju rumah. Saya melihat seorang bapak (belum terlalu tua) sedang berdiri di pinggir jalan. Tangannya memegang tali yang ujungnya terikat di leher seekor anjing. Hewan peliharaan tersebut terlihat sedang pup atau buang air besar tepat di pinggir jalan.

Shinchan dan Shiroi

Shinchan dan Shiroi

Adegan ini juga ada di kartun Crayon Shinchan. Setiap akan membawa Shiroi (anjing putih mungil peliharaan Sinchan sekeluarga), mamanya tak pernah lupa untuk membawakan Shinchan kantung dan penjepit yang berguna kalau-kalau Shiroi pup di tempat umum. Dan Shinchan selalu memungut kotoran anjing kesayangannya itu.

Set inilah yang tidak saya temukan di bapak yang kemarin saya lihat. Setelah anjingnya selesai membuang kotoran, saya belum melihat usaha sang bapak untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Shinchan. Betapa orang-orang di Jepang sangat menghargai lingkungannya dan ini sudah tertanam sejak usia dini.

Bersih Konkrit Bersih Abstrak

Masyarakat di Jepang sangat menjaga diri dan lingkungannya. Cerita pimpinan sekolah saya sepulang dari kunjungan pendidikan di Jepang, orang-orang disana sejak usia dini ditanamkan untuk cinta lingkungan.

“Kami malu sama Buddha,” jelas Prof Mina yang menemani rombongan keliling Jepang.

Termasuk dalam hal menjaga kebersihan lingkungan, seperti Shinchan, sejak usia dini anak-anak dikenalkan dengan hal ini. Bahkan dalam kurikulum pendidikan dasarnya Jepang menempatkam pendidikan lifeskill di atas pendidikan membaca dan berhitung.

Sesuai dengan tahap perkembangan anak yang diteliti oleh Jean Piaget, anak belajar dari yang konkrit (nyata) menuju kepada hal yang abstrak. Anak-anak yang sedari dini kuat bersih konkritnya akan kuat bersih abstraknya. Mereka yang sejak usia dini menjaga kebersihan diri, tempat main/ kerja/ belajar, bersih lantai, bersih lingkungan dari sampah dan kotoran akan mudah mencapai bersih abstrak seperti bersih hartanya dari hak-hak orang lain hingga bersih hatinya dari penyakit-penyakit hati. Sebaliknya, Rapuhnya pemahaman terhadap bersih sejak usia dini membuat korupsi di Indonesia menjadi meraja lela.

Pendidikan usia dini yang bermutu menjadi PR besar bangsa ini. Ibarat membangun rumah, pondasi yang kuat (pendidikan usia dini yang bermutu) akan membentuk bangunan yang kokoh (anak-anak yang kuat karakter dan kebaikannya di usia dewasanya nanti).

Clip to Evernote

One thought on “Belajar dari Crayon Sinchan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge