Menjadi Orang Tua yang (Layak) Dicinta

By | September 9, 2015

Sore itu handphone saya berbunyi. Dari layarnya saya tahu itu panggilan dari salah seorang wali murid. Meskipun saya bukan wali kelas, beberapa orang tua memang sering menghubungi saya terutama berkaitan dengan anak-anaknya di rumah. Seperti telepon saat itu, sang Ibu di seberang sana ternyata curhat bahwa rambut sang anak (kelas 3 SD) tidak mau dipotong.

Dan sang ibu sudah kehabisan cara sampai akhirnya harus saya (padahal bukan guru yang mengajarnya, bukan pula guru kelasnya) yang bicara sama anak tersebut. Yah, intinya sang ibu mengadu. Tapi tentu tidak saya ladeni (lebih lanjut). Yang ada malah sang ibu saya nasehati. 😀

“Kenapa sih pak, anak saya nurutnya sama guru. Kalau kami orang tua yang ngingetin kadang harus berantem,” curhat sang ibu.

Lantas saya balik nanya. “Lha, ibu yakin sudah pakai cara yang tepat berbicara dengan anak?”

Tidak 3M : Menyuruh, Melarang, apalagi Marah

Di sekolah, kami sebagai guru senatiasa menerapkan disiplin pada anak. Konsep disiplin yang diterapkan adalah Disiplin dengan penuh cinta. Khususnya pada anak usia dini, 3M (Menyuruh, Melarang, dan Marah) sangat dihindari dilakukan oleh guru. Prinsip ini kami jalani dan terapkan dalam rangka menjaga keaktifan kerja otak anak usia dini. Dimana, sejak lahir Allah Swt sudah menganugerahkan anak sebagai pembelajar yang aktif.

Dalam kasus ibu di atas, konteksnya adalah “menyuruh” anak mencukur rambutnya. Namun terkadang orang tua bersikap “egois” ingin apa yang ada di kepala mereka langsung masuk ke pikiran anak. Saking kehabisan caranya, perintah yang diberikan kepada anak diikuti dengan ancaman. Contohnya yang dilakukan sang ibu.

“Fariz, ayo dicukur rambutnya. Rambut kamu itu sudah panjang. Nanti kamu dimarahi gurunya lho.”

Kalimat terakhir “Nanti kamu dimarahi guru” adalah bentuk ancaman yang tentu sangat tidak disukai oleh anak. Atau kalimat seperti,

“Ayo faiz, rambutnya harus dicukur. Kalau ngga mau nurut, mama telepon pak guru lho. Nih mama telepon sekarang.”

Komunikasi seperti ini sangat tidak efektif. Bahkan cenderung membuat anak merasa tidak dianggap dan tidak merasa nyaman dengan orang tua.

Yang perlu orang tua ketahui, pada usia anak-anak masih terjadi proses penyambungan sel-sel sarafnya yang berakibat pada proses kerja otak yang tidak secepat orang dewasa. Sehingga anak membutuhkan waktu untuk menerima instruksi. Langkah yang tepat sebenarnya adalah menyediakan kesempatan kepada anak untuk menyerap prinsip dan logika mengenai apa yang perlu dia lakukan.

Menyuruh memang bisa jadi akan membuat anak melakukannya segera. Namun, pada dasarnya di otak anak tidak terjadi proses penyambungan sel saraf sebagi hasil pembelajaran prinsip dan logika. Efek jangka panjangnya untuk anak yang sering disuruh-suruh ini adalah kurangnya inisiatif. Anak hanya akan melakukan sesuatu jika disuruh. Berapa banyak orang dewasa yang hanya bisa bekerja dengan benar ketika disuruh atau diawasi oleh bosnya.

Begitu pula dengan melarang yang membawa dampak membuat anak menjadi pribadi yang peragu. Mau melakukan sesuatu keburu takut. Seperti menyuruh, melarang juga memberikan dampak kurangnya inisiatif dan kepercayaan diri pada anak. Sedangkan tentang marah, seorang neurolog Prof Lise Elliot dalam penelitiannya menyebutkan bahwa membentak dan marah pada anak akan memutuskan sambungan sel-sel saraf bahkan sampai pada mematikan sel-sel sarafnya.

Orang Tua yang Layak Dicinta

Tidak mudah memang menjadi orang tua. Tak semudah teori-teori yang saya tulis disini. Tapi mari kita mengevaluasi diri, sudahkah saya menjadi orang tua yang layak dicintai anak-anak saya? Sudahkah kita memikirkan dampak dari apa yang kita perbuat pada anak saat ini di masa mereka dewasa nanti?

Saya sering berkata pada para orang tua bahwa kami di sekolah mendidik anak-anak mereka dengan penuh kesabaran. Lha, kami saja yang tidak mengandung dan melahirkan mereka bisa bersikap lebih sabar. Apalagi anda sekalian sebagai orang tua yang mengandung, menantikan kehadirannya di dunia berbulan-bulan (bahkan ada yang bertahun-tahun). Sabar anda sebagai orang tua harus jauh di atas sabarnya para guru di sekolah.

Semoga kita senantiasa memperbaiki diri. Senantiasa mencintai anak-anak kita agar kita menjadi orang tua yang layak dicinta.

Clip to Evernote

10 thoughts on “Menjadi Orang Tua yang (Layak) Dicinta

  1. Hastira

    iya sih, aku biasanya lebih sering diskusi kalau anak sudah mulai remaja. kalau masih anak2 lebih menyuruh tapi ada penekanan tanpa menakut2i

    Reply
    1. bangsaid Post author

      Anak usia remaja harus banyak disentuh sisi emosinya. Diskusi jalan yang cukup baik untuk tau keinginan anak dan memasukkan keinginan kita pada anak

      Reply
  2. Ery Yuda P

    Bagus banget , Said. Pembelajaran buat saya. Sy termasuk type yang keras dalam mendidik. Tulisan mu benar , tapi apakah hal2 itu ga membuat anak menjadi lembek dan mentalitas nya lemah? Di dunia nyata kita berhadapan dg banyak type manusia. Ada yang senang membentak , ada yang tukang marah dll. Buat saya keras tapi masih dalam batas2 yg wajar tetap diperlukan. Mohon pencerahan

    Ery Yuda

    Reply
    1. bangsaid Post author

      Justru kami mendidik anak bukan untuk mengalahkan orang lain, mas Ery. Tapi untuk mengalahkan dirinya sendiri. Bukankah jihad terbesar itu adalah menahan hawa nafsu (diri sendiri)?
      Anak memang perlu tau kehidupan nyata seperti apa. Kemudian belajar untuk tidak terlibat lebih jauh dalam konflik. Cukup terus belajar menyelesaikan masalah dengan bicara, belajar memahami orang lain.
      Disiplin kan bukan soal ke-galak-an, tapi soal ketegasan pada aturan 😉

      Sebaik-baiknya teladan adalah Rasulullah Saw, yang bersikap lemah lembut pada anak. Anas Radiyallahu Anhu menjelaskan betapa Rasul sangat mencintai anak-anak dengan tidak suka marah, apalagi sampai mencela anak. 10 tahun beliau bersama Rasul, tak sekalipun Rasul membentak dan mencela beliau.

      Reply
  3. wawan

    bagus sekali tulisan nya. saya termasuk orangtua yang suka menyuruh anak, tapi tidak dg ancaman. dan saya pakai intonasi yg lemah lembut. bagaimana contoh menumbuhkan inisiatif pd anak bukan dg cara menyuruh?

    Reply
    1. bangsaid Post author

      Ilmu ;-). Motor penggerak manusia adalah Ilmu. Itu kenapa Fiqh yang pertama dibahas adalah Fiqh Ilmu.
      Menumbuhkan inisiatif pada anak harus dibangun sedini mungkin.
      Misalnya anak yang enggan atau malas mandi, kita bisa masukkan ilmu “kenapa harus mandi”. Apa saja sih manfaat mandi. Apa dampaknya kalau jarang mandi. dsb

      Reply
    1. bangsaid Post author

      Iya mas… makanya orang Islam itu belajarnya sampai liang lahat 😀

      Reply
    1. bangsaid Post author

      Sama-sama… semoga dikuatkan dalam mempraktekkannya ya

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge