Touring Bandung : Perjalanan Malam yang Mencekam

Akhirnya kesampaian juga untuk touring di awal tahun ini. Terakhir dengan hobi ini sekitar bulan Maret tahun 2011 kemarin ke Puncak dengan basah-basahan menembus hujan dan kabut.

Sabtu (21/1) kemarin, saya berkesempatan untuk touring (jalan – jalan mengendarai sepeda motor) ke Bandung. Awalnya ada misi, namun setelah mendapat kabar orang yg dituju sedang berada di Kalimantan, akhirnya niatnya berubah untuk jalan – jalan saja beserta silaturrahim dengan teman – teman di sana.

Jakarta – Bandung via Jonggol

Rute touring ke Bandung kali ini berbeda dengan yang sudah beberapa kali dilakukan. Jika sebelumnya rutenya dari Tangerang lewat Ciseeng dilanjutkan ke Puncak – Cipanas – Cianjur, perjalanan hari Sabtu kemarin bermula di Kota Wisata Cibubur.

Sengaja mencari rute baru. Maksudnya sih, ingin menghindari macetnya Puncak yang terkadang di longweekend seperti kemarin, cukup parah.

Saya hanya berangkat berdua dengan teman saya yang bekerja di Gunung Putri Bogor. Pukul 17.30 WIB kami memulai perjalanan dari Cibubur menuju Jonggol.

Suasana lalu lintas hingga Citra Indah terbilang padat. Bahkan kami sempat terjebak tawuran warga (tapi saya lupa nama desanya). Karena menjelang maghrib, kami sempatkan untuk mengisi penuh bensin kendaraan di Jonggol sambil rehat sejenak. Tak lama setelah mengisi tas dengan camilan, perjalanan kami lanjutkan hingga terdengar suara adzan maghrib.

Tak sempat foto-foto, hanya Check In saja di Facebook Place. Kami melaksanakan Shalat Maghrib di sebuah Masjid wakaf bernnama Baitul Amanah yang terletak persis di pinggir jalan desa Cariu. Sudah mulai adem di banding Jakarta. Namun nyamuk di masjid yang besar – besar sangat mengganggu.

Pukul 07.00 WIB, perjalanan di lanjutkan. Sepanjang jalan saya hanya bisa bertasbih karena rumah – rumah penduduk sangat berjauhan. Terpisah oleh petak – petak sawah.

Perjalanan Malam yang Mencekam

Lewat desa Cariu, suasana makin sepi. Benar – benar hutan yang kami lewati. Jalanan pun makin menanjak. Ditambah lagi di tengah tanjakan menikung, sebuah mobil truk besar pengangkut batu gunung terguling melintang di tengah jalan. Akibatnya, sangat mengganggu lalu lintas. Untungnya kami tiba di lokasi saat belum banyak mobil mengantri berbagi jalan.

Menuju Cianjur, suasana jalan makin mencekam. Wawan yang membonceng di belakang berulang kali meminta saya fokus menyetir dan tidak melihat ke kanan kiri jalan. Jantung pun ikut berdegup kencang tatkala merasakan ada kendaraan lain yang ikut di belakang. Apalagi sempat terbersit dengan tindak kriminal seperti yang sering terjadi di jalanan sepi.

Suasana hati mulai tenang ketika hampir tiba Ciranjang Jalan Raya Bandung – Cianjur. Beberapa kali istirahat di Cipatat, Padalarang, dan Cimahi cukup membantu melemaskan otot dan tulang panggul yang terasa sudah sangat pegal. Bahkan Wawan sempat tidur selama hampir setengah jam di Cimahi.

Jam 11 malam akhirnya kami tiba di Pasteur. Nasi dan Kwetiau Goreng dekat Hotel Grand Aquila cukup direkomendasikan karena sangat enak. Dan kami di jemput oleh saudara saya di depan Universitas Padjadjaran.

Baik untuk Menghindari Macet Puncak

Rute Jonggol – Bandung ini pada dasarnya lebih baik. Mengingat track jalan yang tidak se-ekstrim jalanan Puncak. Hanya saja sangat tidak direkomendasikan jika perjalanan dilakukan tengah malam mengingat sepinya suasana jalanan. Apalagi kondisi jalan yang tidak mulus. Mungkin ini diakibatkan oleh banyaknya truk – truk besar yang melintas.

Oya, rute ini juga cukup adem. Tidak seperti suasana Puncak dan Cipanas yang dinginnya menusuk tulang. Sangat direkomendasikan untuk mereka yang alergi dingin.

Namun, Saya kurang paham jika siang hari kondisinya seperti apa. Meskipun tidak macet seperti puncak, di kanan kiri jalan kita hanya berjumpa dengan hutan saja.

Clip to Evernote